Rabu, 29 Oktober 2014

Jean (I)


Jean mengurung diri di dalam kamar. Dia menangis lagi, terus terisak-isak . Sudah 30 menit dia menangis dan meratap, namun belum ada tanda-tanda tangisnya akan mereda. Raungannya terdengar hingga ke ruang makan dimana anak-anak kos lainnya sedang berkumpul sambil menikmati goreng pisang buatan ibu kos. Tak ada yang menggubris atau bahkan mencoba menenangkan tangis Jean. Mereka tampak biasa-biasa saja meski tangis Jean semakin keras. Tak ada yang membahas Jean di meja makan, mereka sibuk dengan goreng pisang yang masih hangat.
Akhirnya Jean keluar kamar, entah berselang berapa menit setelah semua goreng pisang ludes dari piring. Matanya sembab, masih memerah. Namun di bibirnya sudah tersungging senyuman. Ya, senyuman kecut khas Jean yang sudah begitu hapal di benak anak-anak kos. Melihat Jean duduk bergabung dengan anak kosan, ibu kos menghampiri sembari menawari sepotong pisang goreng yang sudah mulai dingin. Jean menyambut dengan hangat, kemudian memakannya.
Begitulah, Jean si gadis “freak” teman kos ku. Dia bisa tiba-tiba menangis dan menjerit-jerit kemudian berubah menjadi bahagia seolah tak terjadi apa-apa. Sudah 3 tahun aku satu rumah dengannya, sudah tak lagi heran aku dengan perubahan moodnya yang ekspres. Tak ada yang mau berteman dengannya, bahkan untuk menegurnya saja mereka enggan. Hanya aku yang masih mencoba berbasa-basi dengan Jean. Sekedar melempar senyum atau menanyakan kabar saat kami berpapasan, itupun bila aku sudah tak bisa menghindar lagi.
 “ Bagaimana, enak?,” tanya Bu kos pada Jean.
“aaa?,” Jean tampak linglung.
“ Goreng pisangnya enak?,” tanya Bu Kos
“ Asin,” jawab Jean kemudian meninggalkan pisang goreng yang masih tersisa beberapa gigitan lagi.
Jean kembali masuk ke kamarnya, entah apa lagi yang ia perbuat di kamar. Tak ada yang bisa membaca pikiran Jean. Lebih tepatnya mungkin tak ada yang mau membaca pikiran Jean. Dia gadis yang aneh menurut anak-anak kos. Tidak hanya misterius dan pendiam, dia bahkan terkesan jutek karena seringkali omongannya pedas di telinga. Ya, seperti apa yang ia ucapkan pada bu kos malam ini tentang pisang goreng. Tega-teganya dia mengeluarkan kata asin, padahal ibu kos sudah membuat pisang goreng itu dengan susah payah.  Memang sih goreng pisang itu terasa asin, tapi setidaknya kami berusaha menghargai bu kos dengan menyantap menu itu tanpa sisa.
“ Dia sedikit ketus, tapi dia yang paling jujur diantara kita,” ujar bu kos sambil memandangi punggung Jean yang berlalu menuju kamarnya.
“ hmmm,” aku tak tahu harus berkata apa.
“ Kalian ini bandel, pisang goreng segitu asin malah dilahap habis. Pura-pura bilang enak pula,” omel bu kos sambil mencubit lenganku.
Aku mengusap-usap lenganku sambil mengerang kesakitan. Erangannya sengaja dikeraskan seolah seperti menahan sakit karena digebukin massa. Sambil nyengir aku memeluk ibu kos dari belakang lalu minta maaf. Ibu kos merajuk, pura-pura merajuk sih lebih tepatnya. Seperti ibu yang merajuk pada anak-anaknya yang bandel. Kemudian dia tersenyum sembari membalas pelukanku.
Suara barang pecah mengakhiri kemesraan ibu dan anak. Kami terkejut dan sontak mencari sumber suara. Ternyata dari kamar Jean. Entah barang apa lagi yang ia pecahkan. Guratan kekesalan nampak di wajah anak-anak kosan yang lain. Bahkan salah satu dari mereka, Mira, tak tahan lagi untuk berkomentar.
“ Kesurupan jin apa lagi teman ko. Macam dia tinggal di hutan, tak dipikir orang terganggu,” celutuknya.
“ Sudah, kembali ke kamar kalian. Nggak usah dipikirin,” sahut ibu kos sembari menggerakkan tangannya seperti menghalau anak ayam.
Serempak kami langsung masuk ke kamar masing-masing, begitupun aku. Di dalam kamar, aku masih terus kepikiran Jean. Selama 3 tahun menjadi teman satu kos, sudah tak terhitung berapa kali dia bertingkah aneh seperti itu. Beberapa diantara kami bahkan sempat berpikir untuk membawanya ke psikiater. Tingkahnya dianggap seperti orang tidak normal dan perlu bantuan dokter kejiwaan. Namun rencana itu selalu ditentang ibu kos. Beliau tidak setuju dengan rencana anak-anak kos karena menganggap bahwa prilaku Jean masih dibatas kewajaran.
Bagiku memang sedikit berlebihan jika kami membawanya ke psikiater, namun aku masih bisa memahami maksud baik anak-anak kos. Setidaknya mereka masih punya sedikit perhatian pada Jean. Mereka mungkin ingin Jean bisa berbaur layaknya kawan-kawan lainnya dan dapat bersikap lebih terbuka. Setidaknya aku mencoba berpikir positif terhadap usulan kawan-kawan untuk membawa Jean ke psikiater. Aku tak ingin mempercayai pemikiran liarku bahwa dibalik rencana membawa Jean ke psikiater adalah kamuflase agar Jean bisa dikeluarkan dari kos. Tentu saja itu bukan hal yang nyata, tidak mungkin teman-teman setega itu pada Jean.
Memikirkan Jean membuat kepalaku yang sejak tadi siang sudah sakit menjadi semakin berdenyut. Ku lirik obat sakit kepala yang ada di atas meja belajar. Disampingnya ada gelas kosong. Ku hembuskan nafas panjang. Beberapa detik kemudian aku melangkah ke luar kamar hendak mengisi gelas kosong itu dengan air minum di dapur.
“ Aku sudah tidak kuat serumah dengan dia. Makan hati kita. Bisa-bisa kita ikut-ikutan seperti dia. Seram...,” ujar seseorang dari kamar Mira yang persis berada disebelah kamarku.
Ku intip ke dalam kamar, pintunya tidak tertutup sempurnah. Di dalam kamar ada Sherly dan Agustin juga. Mereka sedang berbincang serius, ku pikir mereka tengah membicarakan Jean. Tak tertarik dengan pembicaraan mereka, aku putuskan untuk melangkah ke dapur. Namun langkahku terhenti ketika Mira memanggil namaku. Aku berbalik, Mira dan Sherly ternyata sudah nongol dari balik pintu kamar. Sambil tersenyum aku menunjuk ke arah gelas yang ku genggam, mencoba menyampaikan pesan bahwa aku tidak berencana menguping, hanya kebetulan lewat untuk mengambil air.
“ Kak, masuklah sebentar. Kami nak bicara,” ajak Mira.
“ Nak bicara ape?,”   sahutku menirukan dialek Mira yang merupakan perantauan dari tanah Melayu.
“ Kita mesti bawa Kak Jean ke psikiater. Macam mana menurut, Kak?,” ketiga pasang mata mengarah padaku. Mengharap aku menyetujui usulan mereka.
“ Tapi kata Bu Kos....,”
“ Tak perlu kita lapor bu kos, kita-kita saja yang bawa,” potong Sherly.
“ Aku rasa kita benar-benar berlebihan kalau membawa Jean ke psikiater,” jawabku.
Guratan kekecewaan terlukis di wajah ketiga junior ku itu. Mereka kecewa karena aku menentang usulan mereka. Bahkan Agustin menghela nafas panjang, seperti orang yang berusaha menenangkan diri. Ia yang sejak tadi hanya diam kemudian mulai membuka suara.
“ Berlebihan bagaimana, tindakan Kak Jean sudah diluar ambang batas kewajaran. Dia seperti orang depresi. Kami tak sanggup tinggal berlama-lama dengan orang seperti itu,” ujarnya dengan intonasi agak tinggi.
“ Kalau kalian tak sanggup, kalian bisa keluar dari kosan. Setidaknya itu yang akan disampaikan bu kos pada kalian,” tambahku.
“ Kenapa begitu? Masa bu kos mau kehilangan 4 anak kos hanya untuk mempertahankan satu orang?,” celutuk Sherly.
Ku ceritakan kepada ketiga gadis itu bagaimana anak kos sebelum mereka berupaya mengusir Jean dari kosan. Segala cara sudah mereka lakukan mulai dari meminta dengan baik-baik sampai akhirnya mengancam ibu kos untuk mengusir Jean jika tidak maka mereka semua terpaksa angkat kaki dari kosan. Ada 13 anak kos yang memiliki niat untuk pindah jika permintaan mereka tidak dituruti ibu kos. Namun tak bisa diterima akal sehat, ibu kos justru memilih agar anak-anak itu yang pindah ketimbang mengusir Jean. Selama dua bulan kosan hanya dihuni oleh aku dan Kak Rita yang saat itu memilih untuk bertahan.
Kak Rita memang saat itu tetap bertahan bukan karena peduli pada Jean atau setuju dengan keputusan bu kos, tapi karena dia akan menikah dalam waktu 2 minggu. Akan sangat merepotkan jika dia harus ikut pindah sementara dalam 2 minggu dia akan diboyong suaminya ke Kalimantan. Sementara itu, aku bertahan juga bukan karena aku peduli pada Jean. Aku bertahan karena saat itu aku baru membayar uang kos selama 1 tahun di awal.
Masih kental diingatanku saat hari pertama aku masuk ke kosan, disaat itu pula Jean mengamuk dan memecahkan barang-barang di kamarnya. Nyaliku menciut kala itu, terbayang aku menjadi target amukan Jean jika berlama-lama tinggal di kosan. Namun apa boleh buat, aku sudah terlanjur membayar uang kos 1 tahun di muka.Dari hari itu hingga sekarang, ternyata ketakutanku tidak terbukti. Aku dan anak kos yang lain tidak pernah menjadi korban amukan Jean. Ya, walaupun dia sering menangis dan mengamuk, setidaknya dia melakukannya saat dia di kamar. Tidak pernah sekalipun aku melihatnya mengamuk di luar kamar.
“ Jadi apa yang harus kita lakukan?,” tanya Sherly gusar.
“ Besok aku akan pindah,” jawab Agustin dengan mantap.
“ Aku juga,” timpal Mira. (bersambung)

Selasa, 19 Agustus 2014

Boleh Galau Sebelum Mencoblos



Kerumunan massa memadati lapangan Imam Bonjol. Lapangan itu kini dihiasi oleh bendera-bendera berwarna dan berlambang partai politik. Beberapa orang yang berdiri di panggung menjadi pusat perhatian ribuan massa. Mereka itu para petinggi salah satu partai politik dan para kader partai yang sedang menyampaikan orasinya . Ya, begitulah suasana kampanye yang dilakukan oleh salah satu partai politik yang dinyatakan lulus verfikasi administrasi dan factual oleh KPU.
Ramai sekali lapangan itu, bahkan untuk mencari parkiran pun menjadi lebih sulit dari hari-hari biasanya. Mamaku yang saat itu sedang mencari parkir sempat mengomel karena tidak juga menemukan tempat kosong untuk mobil kami. Padahal kami harus buru-buru menjemput jahitan yang akan dipakai oleh saudari sepupuku untuk akad nikahnya siang itu juga.
“ Huff…penuh. Nggak ada parkir yang kosong,” celetuknya.
“ Mama turun aja dulu ngambil jahitannya, aku tunggu di mobil. Nanti kalau ada yang mau keluar, biar aku minta tolong tukang parkirnya,” usulku.

Mama langsung turun dari mobil dengan membawa tasnya. Aku hanya duduk di dalam mobil sambil memperhatikan massa yang ramai memadati lapangan. Sayup-sayup terdengar orasi yang disampaikan kader parpol dari dalam mobil. Sebagian dari pesannya dapat ku mengerti, namun sebagian lagi aku tak begitu paham karena bahasanya agak politis jika dipandang dari kacamataku sebagai siswa SMA. Namun setidaknya aku paham bahwa para kader berupaya menggalang suara agar menang dalam pemilu 2014.
Tiba-tiba kaca mobil di ketuk, seorang tukang parkir mengisyaratkan agar aku membuka kaca mobil. Dia kemudian meminta agar aku menepikan mobil dilahan parkir yang sudah kosong di ujung jalan. Ku katakan bahwa aku tak bisa mengendarai mobil dan meminta bantuannya untuk parkir. Beruntung tukang parkir ini mahir mengendarai mobil sehingga tanpa butuh waktu lama mobil sudah terparkir dengan aman.
Aku kemudian turun dari mobil dan mendekati tukang parkir tadi. Ku ajak bicara sekedar basa-basi. Topiknya pun tak jauh dari kampanye yang sedang berlangsung. Namun diluar dugaanku, tukang parkir justru sangat piawai bicara tentang partai politik dan pemilu yang akan dilakukan. Ya, setidaknya jauh lebih mengerti dibandingkan denganku sebagai pemilih pemula.
“ Pemilu itu milih presiden apa partai sih,da?” tanyaku polos.
“ Tergantung, kalau April ini kita pilih calon legislative, nah kalau September nanti kita pilih Presiden,” jawabnya.
“ Presiden pilihan Uda yang seperti apa?,” tanyaku lagi.
“ Yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik,” jawabnya.
“E…buset diplomatis banget ya jawabannya. Boleh juga ni orang, gue aja nggak tau mesti jawab apaan. Boro-boro mikirin Indonesia, mikirin hidup gue aja belon kepikiran,” gumamku.
“ Udah tahu mau pilih parpol apa,da?” tanyaku lagi.
“ Belum, masih mikir kira-kira partai mana yang memang kompeten,” jawabnya.
“ E…buset. Kompeten, apaan tuh?,” ujarku dalam hati.
“ Nah adek sendiri udah tahu mau pilih parpol mana?,” si uda balik bertanya.
“ Belum,da. Habisnya parpolnya kebanyakan, lebih banyak dari kawan-kawan sekelas,” jawabku.
“ Lha, emangnya sekelas nggak lebih dari 10?,” tukang parkirnya garuk-garuk kuping.
“ Ada 40,da. Kan parpolnya ada 48, lebih banyakkan,” jawabku sok yakin.
“ Kamu dapat info dari siapa parpolnya 48?,” kali ini uda tukang parkir tak bisa menyembunyikan kegeliannya.
“ Loh, itu waktu pelajaran Sejarah dibilang parpol ada 48,” jawabku.
“ Haha…adik nggak cek itu tahun berapa? Haha adik ini lucu,” ledeknya.
“ E buset, diledek loh gue,” gumamku.

Karena nggak mau kalah, akhirnya aku mengeluarkan ponselku dan mulai browsing tentang parpol yang akan berlaga dalam pemilu 2014. Ternyata jumlahnya bukan 48 parpol seperti tahun 1999, melainkan hanya 13 parpol. Mukaku makin merah padam karena menahan rasa malu. Namun aku berpura-pura santai saat si tukang parkirnya mulai buka cerita lagi tentang harapan-harapannya terhadap pemimpin Indonesia yang baru. Beruntung percakapan itu tidak terlalu lama, sebab Mama akhirnya datang. Dengan perasaan lega, aku meninggalkan si tukang parkir.
Di dalam mobil aku bertanya banyak pada Mamaku tentang pentingnya memberikan suara saat pemilu nanti. Sebab sebelumnya aku berpikir tak ada untungnya memilih kalau toh Indonesia hanya begini-gini aja dimana kemiskinan masih banyak, pembangunan tidak merata bahkan korupsi berjamaah semakin menjadi-jadi. Rasanya akan sulit untuk merubah sistem yang telah ada saat ini.
“ Kita harus memilih, demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Ya pastinya demi kehidupan Indonesia yang lebih baik lagi. Kalau masyarakatnya apatis dan golput, kapan kita bisa mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan bermartabat di mata Internasional,” ujar Mamaku.
“ Tapi ada yang bilang kalau siapapun yang akan terpilih nantinya juga akan korupsi. Itu partai Islam saja kadernya diduga korupsi sapi, nah yang partai nasionalis juga korupsi. Buat apa capek-capek milih,” tanyaku.
“ Ya itu makanya kita butuh pemimpin yang bisa membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Pilih dengan cerdas, periksa track record-nya. Kalau udah nggak beres, jangan dipilih. Pilih calon jangan karena tampang, status, harta atau karena dia dibesarkan oleh media tapi pilih yang benar-benar terbukti kompeten,”
“ Nah lo, si Mama juga bicara kompeten. Apaan sih artinya?,” gumamku dalam hati.
“ Berkompeten itu maksudnya berkualitas secara ilmu, praktek dan berakhlak. Jadi, kalau Cuma janji ini janji itu tapi kemampuannya nggak diperlihatkan ya jangan dipilih. Apalagi calon yang Cuma menang karena pencitraan oleh media, sudah jelas nggak akan berkualitas,” Mama menambahkan.
Mama kemudian menjelaskan bagaimana sosok pemimpin yang ideal untuk negaranya, yakni pemimpin yang pro terhadap rakyat. Pemimpin yang tahu apa kebutuhan masyarakatnya. Kebijakan yang diambil semata-mata demi kebaikan masyarakat bukan kepentingan golongan.
“ Pemimpin itu juga harus amanah, kalau tidak maka hancurlah bangsa ini,” tegas Mama.
Tak terasa kami sudah tiba dikediaman saudari sepupuku. Tenda dan pelaminan sudah selesai didirikan. Calon pengantin pun sudah selesai dirias, tinggal mengenakan kebaya yang baru saja kami ambil dari binatu. Setelah menyerahkan kebaya, aku duduk di teras belakang. Kebetulan disana tempat yang cukup sepi dibandingkan ruangan lain yang sudah dipenuhi oleh tamu dan sanak saudaraku yang lain.
“ Rani…ngelamun aja nih,” suara seseorang mengagetkanku.
“ Hehe aku lagi mikirin pemilu. Kak Sandra sudah tahu mau pilih siapa dan partai apa?,” tanyaku.
“ Sudah dong tapi rahasia. Yang pasti pilih partai yang bersih dari korupsi, caleg yang berkualitas dan capres yang tegas,”
“ lha tau dari mana parpolnya bersih korupsi dan calonnya berkualitas dan tegas?,”
“ Aduh, kamu itu anak muda nggak sih. Itu ponsel pintar buat apa dibeli mahal-mahal kalau Cuma buat jejaring sosial aja. Dibikin yang bermanfaat dong,sayang. Cari tuh info tentang parpol dan calonnya. Gampang kok buat dinilai mereka bermutu apa kagak. Kalau munculnya Cuma pas musim pemilu, ya jangan dipilih yang begitu,”  jawabnya sambil mencubit pipiku.
“ hehe iya, yah. Biasanya browsing Cuma buat cari gossip artis atau kalau nggak buat twitteran doang. Nggak mutu banget ya. Sudah saatnya nih generasi muda berubah,” jawabku penuh semangat.
“ Anak muda zaman sekarang kalau soal cinta galau mampus. Coba diarahkan galaunya mencari pemimpin masa depan pasti lebih mutu,” tukasnya.
Ternyata persoalan politik itu menarik jika mau dipelajari. Barangkali remaja seusiaku sudah kadung menganggap bahwa politik itu rumit dan licik sehingga sudah antipati terlebih dahulu. Mungkin itu juga alasannya kenapa banyak pemilih pemula yang golput alias tidak memilih.
Ada benarnya juga kata pepatah kalau tak kenal maka tak sayang. Jika remaja tidak berusaha mengenal politik, pemilu dan urusan kenegaraan lainnya maka bagaimana mungkin kita bisa menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme di hati kita. Justru yang ada kita akan tumbuh menjadi generasi bangsa yang apatis dan egois. (*)




Sheila, Jangan Nakal!



Sheila merupakan gadis cilik berusia 6 tahun. Dia telahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Kemarin lusa She -begitu dia biasa dipanggil kedua orangtuanya- baru saja merasakan menjadi seorang kakak. Seharusnya She sedang riangnya bermain dengan adik kecilnya di rumah. Namun itu tidak dia lakukan, She justru ingin bermain di luar rumah karena merasa cemburu melihat kedua orangtuanya sibuk memperhatikan si jabang bayi.
She sudah cukup lama menjadi anak semata wayang, jadi wajar rasanya kalau gadis cilik itu merasa agak cemburu dengan adiknya. Hanya saja dia masih terlampau dini untuk bisa mengontrol perasaan cemburu itu. Akhirnya, dia meluapkan kecemburuannya dengan mencari-cari perhatian seperti melemparkan barang-barang hingga berbuat keisengan yang justru membuat orangtuanya berang. Bukannya kapok, She malah bertambah membuat ulah dengan mengganggu semua penghuni rumah disana, tak terkecuali Nenek dan Bibi Nur.
“ Mama, kita main ke taman yuk. Ayo Ma, kita ke taman. Aku bosan,Ma,” rengek She.
“ Kak She, Mama lagi nyusuin dedek. Kakak main di kamar aja ya,” tolak Mamanya.
She yang merasa jengkel lalu melempar bantal yang ada di dekat Mamanya kemudian kabur setelah mendengar Mama berteriak karena kesal dengan ulah She. Tak kapok, She datang mendekati Bibi Nur. She minta dibuatkan segelas susu. Namun setelah susu itu dibuatkan, She justru menumpahkannya ke lantai. Alhasil si Bibi terpaksa mengepel lantai lagi. Nenek yang melihat perbuatan cucunya langsung menasehati She agar tidak mengulangi perbuatan buruknya tersebut.
She yang masih kesal karena merasa tidak diperhatikan kemudian masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Beberapa menit dia memainkan boneka Barbie koleksinya, namun setelah bosan She melemparkannya ke kolong tempat tidur. Lalu dia bangkit dan melihat ke arah jendela kamar. Ada Rere dan Manto, anak seusianya tampak memanjat pohon rambutan yang ada di kebun Kakek Rinto. Dari seberang Rere tampak melambaikan tangan pada She dengan maksud mengajaknya untuk ikut bermain bersama.
“ Dasar anak kampungan. Main begituan aja pamer,” gumam She lalu ia langsung meninggalkan jendela.
Esoknya She kembali mendapat omelan, kali ini dari Papanya. Penyebabnya karena She mencabut listrik computer di kamar kerja Papa. Ketika dinasehati, She malah kabur ke pekarangan. Papa terpaksa mengurut dada karena kelakuan anak sulungnya itu. Bagaimanapun di marahi atau dinasehati, She toh seperti tidak mau mendengarkan. Malah semakin dimarahi, menjadi semakin nakal dari sebelumnya.
“ Hei, kalian bawa apa?,” Tanya She pada Rere dan Manto yang kebetulan lagi melintas di depan rumah She.
“ Kami bawa sayuran dan wortel,” jawab Rere.
“ Itu kan sudah busuk, masih juga mau dimakan?,” tanyanya lagi.
“ Belum busuk, tapi memang sudah agak layu. Kalau untuk kelinci sih nggak apa-apa. Eh kamu lagi ngapain? Ikut yuk kasih makan kelinci,” ajak Rere.
“ Kemana?,” She tampaknya mulai tertarik.
“ Di belakang kebun Kakek Rinto. Ayo buruan, kelincinya sudah lapar,” ajak Rere.
Manto kemudian menarik tangan Rere dan membisikkan sesuatu ditelinga kakaknya itu. Rere kemudian membalas membisikkan kata-kata ditelinga adiknya. She yang melihat kedua kakak beradik itu saling berbisik pun curiga. Dia merasa Rere dan Manto merencanakan sesuatu untuk mengerjai dia.
“ Hei, kalian bisik-bisikin aku ya? Mau ngerjain aku ha!,” hardik She sambil membelalakkan mata dan berkacak pinggang.
“ Tuh kan udah aku bilang nggak usah ajak anak sombong ini. Lihat tuh gayanya belagu,” semprot Manto kemudian menarik tangan kakaknya agar meninggalkan She.
“ Hei tunggu. Kalian katanya mau ajak aku kasih makan kelinci, kenapa ditinggal?,” maki She.
“ Tak usah ikut. Aku tak mau berteman dengan anak sombong,” balas Manto.
“ Sudahlah, jangan begitu. Kita ajak saja, dia sebenarnya baik kok,” bantah Rere.
Akhirnya kedua kakak beradik itu diikuti juga oleh She berjalan menuju kebun Kakek Rinto. Di belakang sana sudah ada 4 kandang kelinci yang lucu-lucu. Rere menyodorkan wortel ada She, tapi She tidak berani mengambilnya karena geli harus memberi makan kelinci. Akhirnya She hanya melihat Rere dan Manto memberi makan kelinci dari jauh.
“ Dia itu payah, anak manja sih. Masa sama kelinci aja takut,” ledek Manto.
“ Eh aku nggak payah. Aku juga nggak manja. Aku nggak takut sama kelinci, aku Cuma jijik. Kamu kan anak kampung, jadi wajar saja main sama yang menjijikkan,” maki She.
“ Loh, aku kan Cuma bercanda kenapa malah dimaki-maki sih. Dasar kamu anak manja, pergi sana!,” usir Manto.
She yang kesal pun pergi meninggalkan kebun Kakek Rinto. Dia benar-benar marah karena belum ada yang berani membentak-bentak apalagi sampai mengusirnya seperti tadi. She pun berencana membalas perlakuan Manto lebih kejam dari yang dia lakukan tadi. Akhirnya sambil berjalan pulang ke rumah, She memikirkan cara bagaimana membalas sakit hatinya pada Manto. Tak lama ide jahil itu datang, raut wajahnya mendadak sumringah. Dia senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi Manto dan Rere ketika dijahili nanti.
Petang pun datang, langit sudah mulai menghitam. She mengendap-endap keluar dari rumah. Dia langsung menuju belakang kebun Kakek Rinto. Ketika tiba di depan kandang kelinci, dia membuka satu persatu pintu kandang yang memang hanya dikunci dengan potongan kayu itu. Pada saat membuka pintu kandang yang terakhir, tiba-tiba kelincinya langsung melompat ke wajah She. Gadis itu kaget dan berlari menjauhi kelinci itu tanpa memperhatikan langkahnya. Sebuah duri ukuran kelingking orang dewasa menancap di telapak tangan She. Duri itu menancap ketika She tersungkur dan tangannya persis menancap pada duri yang ada di kebun itu.
Sambil menahan rasa sakit, She meninggalkan kebun. Dia menangis karena tak kuat menahan rasa sakitnya. Mbak Sum yang saat itu baru pulang berjualan es tongtong keliling menghampiri She yang sudah pucat menahan sakit. Dia langsung tahu apa yang menjadi sebab She menangis. Akhirnya dia membawa She ke rumahnya untuk diobati. Setibanya di rumah, Mbak Sum langsung mencabut duri di tangan She dan mengolesi dengan obat merah.
“ Makasih ya,Mbak,” ucap She setelah tangannya diobati.
“ Iya sama-sama. Kamu dari mana Magrib begini? Bukannya pulang malah ngeluyur,” tanya Mbak Sum.
“ Dari rumah teman, itu mau pulang,” jawab She yang jelas-jelas bohong.
“Kamu tinggal dimana? biar Mbak antar pulang,” usul Mbak Sum yang memang belum pernah melihat She karena gadis cilik itu tak pernah bermain di luar rumah selama ini.
Belum sempat She menjawab, Rere dan Manto masuk ke dalam rumah Mbak Sum dengan wajah tegang dan nafas yang tersengal-sengal. She yang melihat ekspresi kedua kakak beradik itu langsung senyum-senyum sendiri karena merasa puas bisa mengerjai mereka. Namun ternyata rasa puas itu berubah jadi rasa bersalah ketika dia tahu bahwa Rere dan Manto ternyata keponakan Mbak Sum, orang yang sudah baik menolongnya.
Rasa bersalah itu kemudian menjadi semakin besar ketika dia juga baru tahu bahwa kelinci-kelinci yang ia lepaskan itu adalah kelinci Kakek Rinto. Rere dan Manto bertugas merawat dan memberi makan kelinci tersebut setiap harinya dengan bayaran upah yang sepadan. Upah itu digunakan Rere dan Manto untuk uang jajannya sebab mereka tidak ingin membebani Mbak Sum.
“ Sudah kalian cari ke belakanng kebun?,” tanya Mbak Sum.
“ Sudah kami kelilingi kebun, tapi nggak ada. Seseorang sudah melepaskan kunci kandangnya. Tega sekali dia, kami bisa dimarahi Kakek,” jawab Manto.
“ huss jangan berpikiran buruk. Bisa saja memang kalian lupa mengunci pintu kandangnya saat memberi makan tadi,” sergah Mbak Sum.
“ Maaf, sebenarnya aku yang melepaskannya tadi. Aku minta maaf sudah berbuat jahat pada kalian. Aku akan tanggungjawab, akan ku cari sampai ketemu,” sesal She.
“ Kau ini benar-benar jahat. Argh kita laporkan saja pada Kakek Rinto dan orangtuanya,” omel Manto.
“ She sudah mengaku salah, sebaiknya kita tidak boleh menyimpan dendam. Yuk kita cari sama-sama. Tidak mungkin mereka pergi terlalu jauh,” sahut Mbak Sum.
Akhirnya mereka berempat mencari kelinci tersebut disekitar kebun dengan bantuan senter. Beruntung kelinci-kelinci itu masih tak jauh dari kandangnya. She sekali lagi mengucapkan maaf karena sudah berbuat kesalahan. Dia mendapatkan pelajaran berharga hari ini tentang bagaimana mengontrol emosi, memaafkan dan belajar bertanggungjawab.
Sepulang dari kebun, She langsung menemui Mama dan Papanya yang sudah menunggu dengan cemas di teras depan. Sambil memeluk mereka, She mengucapkan permintaan maafnya setelah sikap buruknya selama ini. Kemudian dia mencium adik kecilnya seraya berkata bahwa dia sangat menyayangi adiknya. Gadis cilik itu berjanji tidak akan cemburu apalagi marah dengan orangtua dan adiknya karena dia sudah menyadari betapa tidak beruntungnya Rere dan Manto yang tidak memiliki orangtua sejak kecil dan terpaksa bekerja untuk mencari uang jajan. (*)

Selasa, 26 Oktober 2010

TPM dan Faskel Lempar Bola


By: Marisa Elsera

Tim Pendamping Masyrakat (TPM) dan fasilitator kelurahan (faskel) saling lempar bola soal dana gempa 2009 di kelurahan kuraopagang, kecamatan Nanggalo. Tuntutan warga yang tidak mendapatkan dana gempa tahap I yang dialamatkan pada kelurahan kini dilemparkan pada  faskel, sedangkan faskel kembali melempar bola pada TPM.

Akibatnya, warga kelurahan kurao pagang merasa dibodohi oleh situasi yang kembali menghangat. Warga menuntut transparansi TPM dan faskel dalam menentukan kategori penerima dana bantuan gempa tahap I yang akan cair. Warga merasa dianak tirikan karena menurut mereka penerima dana gempa tahap I hanya konco TPM dan perangkat RT dan RW dikelurahan tersebut.

“Kami merasa dianak-tirikan. Kenapa hanya konco terdekat RT, RW dan Kelurahan saja yang mendapatkan tahap I. sedangkan banyak yang rumahnya tidak layak huni tidak diperioritaskan,”tutur Eda, warga RT 8 RW 2.

Jum, warga RT 2 RW 2 juga menjelaskan bahwa masyarakat telah dikibuli oleh TPM. TPM hanya memperioritaskan masyarakat yang menjadi koloninya. Terbukti dengan tidak diberikannya dana bantuan gempa tahap satu pada warga yang mengalami rusak berat dan rusak menengah yang justru lebih membutuhkan.

“Kami hanya meminta keadilan. Jangan karena ingin mendapatkan dana gempa, warga yang lebih membutuhkan terpinggirkan. Tidak layak pemimpin berbuat demikian. Dan lagi, tidak pantas ketua RW 2 itu menandatangani persetujuan gempa karena masa jabatannya telah berakhir 1 tahun lalu,”tuturnya.

Sementara itu, Frida Yulis, warga RT 2 RW 2 mengaku rumahnya yang ditimpa reruntuhan rumah tetangga juga tidak mendapatkan bantuan tahap I sedangkan warga lainnya yang mengalami kerusakan lebih ringan malah mendapatkan perioritas pertama. Jika memang dana gempa itu hanya tiba separuhnya, maka sebaiknya warga yang benar-benar membutuhkan lebih didahulukan.

Nasib serupa juga diungkapkan Jaswin, warga RT 8 RW 2 yang mengaku tiga ruangan di rumahnya rubuh sehingga jika hujan turun rumahnya akan kebanjiran karena atap rumah ikut runtuh. Jaswin pun menyesalkan peruntukan dana bantuan gempa yang berdasarkan kedekatan darah dan kedekatan emosional sehingga warga yang benar-benar membutuhkan bantuan dana termarginalkan.

“Alah susah ambo lalok kini, kamari payah. Rumah lah rubuah, tapi disuruah manunggu juo. Yang rumahnyo indak baa-baa, kok dapek duluan?,”tuturnya.

Ketika dikonfirmasi pada  lurah Kurao Pagang, Ermon mengaku penetapan kategori tersebut dipercayakan pada faskel dan tanpa ada campurtangan TPM. Jikalau ada masyarakat yang merasa keberatan dengan penilaian yang dilakukan faskel, bisa laporkan ke PJOK agar diverifikasi kembali dana yang akan turun tersebut.

Di kelurahannya, ada sekitar 1200 rumah yang rusak akibat gempa,yakni sekitar 400 rusak berat dan 600 rusak menengah dan sisanya rusak ringan. Namun untuk keluraha Kurao Pagang hanya dijatahkan 502 rumah yang mendapatkan bantuan gempa dengan rincian250 rumah rusak berat dan 252 rumah rusak menengah. Akan tetapi, karena jumlah rumah yang rusak menengah dan berat melebihi kuota, terpaksa dibagi kedalam penerima dana gempa tahap satu dan tahap dua.

“Kami pihak kelurahan tidak ikut campur apalagi mengintervensi faskel. Mengenai kategori penerima tahap pertama, itu urusan faskel. Mereka sejak awal mencari data penerima gempa kemudian mengkategorikan warga yang berhak mendapatkan di tahap pertama berdasarkan kategori yang telah ditetapkan oleh mereka,”tutur Ermon, saat ditemui di kantor camat Nanggalo lama, Rabu (13/10).

Namun, saat ditemui oleh Padang Ekspres di kantor PJOK, di jalan Bundo Kanduang, faskel Kurao Pagang, Doni membantah penentuan kategori penerima bantuan gempa tahap satu ditetapkan oleh Faskel. Doni menuding TPM telah mengintervensi faskel dalam bekerja sehingga untuk menetapkan 502 penerima dari 1200 rumah rusak diserahkan sepenuhnya pada RT/RW dan diketahui oleh kelurahan.

“Kami diintervensi, sehingga kami sulit untuk bersikap bijak, karena pihak kelurahan lebih memahami warga mana yang pantas diberikan bantuan, kami serahkan para mereka,”tutur Doni.

Diuraikannya, setelah menjadi faskel di Kurao Padang, tidak hanya intervensi dariRT dan RW yang ia terima, tapi juga ancaman dan terror akan dibunuh dan dikejar dengan parang. Hal itu, disebabkan oleh rawannya posisi faskel di kelurahan tersebut. Tidak hanya kelurahan yang mengintervensi, tapi masyarakat juga mengadilinya karena tupoksinya terhadap penerima bantuan gempa.

Sementara itu, Penanggungjawab Operasional Kota (PJOK) Padang, Asnul menghimbau kepada warga yang tidak puas dengan hasil penilaian faskel dan kinerja TPM untuk melapor pada PJOK agar ditindak lanjuti. Pada prinsipnya, dana bantuan gempa itu memang tidak bisa diberikan sekaligus pada masyarakat terkait ketersediaan dana gempa yang minim. Namun, ditahap dua nanti semua warga yang mengalami kerusakan rumah akan diberikan dana gempa.

“Jangan cemas, ada dana gempa tahap dua. Tapi kami minta untuk bersabar. Jika ada penyelewengan, silahkan lapor pada kami,”tuturnya.(m)