Kamis, 26 Maret 2020

Pariwisata Dan Pelacuran Anak: Sebuah Input Bagi Pengambil Kebijakan


Marisa Elsera
marisaelsera@umrah.ac.id

Absract
Tourism and prostitution like ants and sugar, as inseparable. Where there is a growing tourism destination, there helped grow prostitution. Prostitution is happening in the area of tourism destinations often do not grow with the unintended, but also grow naturally. These days, children and young women prostituted in Indonesia are increasingly being published. Young women trapped in prostitution is growing like mushrooms in the rainy season. Riau Islands Province (Riau) as one of the provinces which become the leading tourist destinations in Indonesia also inseparable from the phenomenon of prostitution. Causes of child prostitution in Riau diverse, ranging from geographic location Kepri near neighboring countries, Riau Islands as a tourist destination, economic pressure, entangled syndicates pimp, child prostitution orientation shifted into the temptation of fun and luxury. Pleasure (fun), meaning they are prostituting themselves not for economic reasons but rather to want to have fun. This occurs due to the interpretation of children and adolescents who deviate (from the morals and values of society Indonesia) towards virginity and illicit sexual relations. Then, some are prostituting themselves because of the temptation for luxury and life style.

https://ojs.umrah.ac.id/index.php/juan/article/view/673

Suku Laut di Dusun Linau Batu Desa Tanjungkelit, Kabupaten Lingga Provinsi Kepri


ABSTRAK
Marisa Elsera
marisaelsera@umrah.ac.id
Kehidupan Suku Laut di Dusun Linau Batu, Desa Tanjungkelit, Kabupaten Lingga yang awalnya hidup nomaden, pindah dari satu pulau ke pulau yang lain dengan menggunakan sampan yang sekaligus dijadikan sebagai tempat tinggal mereka kini sudah menetap. Namun, kemiskinan dan keterisoliran masih menjadi pengalaman bagi masyarakat Suku Laut. Jika pada dahulunya mereka terisolir karena kultural, sejak dirumahkan mereka juga terisolir secara structural. Kemiskinan yang muncul diakibatkan dari rendahnya perhatian pemerintah, tidak tersentuhnya mereka dalam pembangunan dan stereotype masyarakat tempatan terhadap masyarakat Suku Laut membuat mereka semakin terbelakang.

Kendati mereka saat ini sudah menetap, sudah tercatat secara administrasi, namun nyatanya masih teridentifikasi bentuk pengabaian kepada mereka. Salah satunya, dengan tidak diakuinya lagi mereka sebagai komunitas adat terpencil sehingga perhatian dan bantuan pemerintah daerah maupun pusat menjadi sangat minim, bahkan untuk beberapa aspek belum terjamah, seperti keahlian melaut menggunakan peralatan modern. Hingga puluhan tahun menetap di Dusun Linau, mereka sampai sekarang hanya menggunakan perahu dayung, pancing dan tombak sebagai alat tangkap. Padahal, mereka sangat terbuka untuk menerima inovasi baru. Dampaknya, kehidupan mereka tak pernah lepas dari hutang.
Keyword: Suku Laut, Terisolir, Kemiskinan


http://jurnal.unpad.ac.id/sosioglobal/search/authors/view?firstName=Marisa&middleName=&lastName=Elsera&affiliation=Maritime%20Raja%20Ali%20Haji%20University&country=ID

Sabtu, 17 Juni 2017

Gema Minang Santuni Santri

Hasil gambar untuk gema minang tanjungpinang


TANJUNGPINANG--Bulan Ramadan ini, Gema Minang Kota Tanjungpinang memberikan bantuan kepada Yayasan Panti Asuhan Hidayatullah, Tuapaya Kabupaten Bintan, Minggu (11/6). Pengurus Gema Minang Tanjungpinang bersama dengan Ustaz Hamadi dan santri Yayasan Panti Asuhan Hidayatullah ikut berbuka bersama.
Ketua Gema Minang Kota Tanjungpinang, Doni Yarzal, turun langsung memberikan santunan kepada anak santri. Selain memberikan santunan kepada anak santri, Gema Minang Kota Tanjungpinang memberikan bantuan sembako, berupa beras, minyak goreng, gula pasir, sirup. Doni Yarzal mengatakan, Gema Minang Kota Tanjungpinang akan melakukan program pemberdayaan masyarakat terhadap pesantren di Hidayatullah.
Sehingga pondok pesantren ini menjadi projek penanaman benih sayuran. Karena ini merupakan kegiatan jangka panjang yang akan dilakukan Gema Minang Kota Tanjungpinang sebagai wujud nyata pengabdian dan kepedulian terhadap masyarakat.
”Semua ini, atas kerjasama Gema Minang Kota Tanjungpinang dengan PT East West Seed Indonesia (cap panah merah) untuk benih sayuran” ucap dia.
Kedepannya, lanjut dia, Gema Minang Kota Tanjungpinang akan selalu melakukan kegiatan sosial. Seperti memperdayakan masyarakat. Semua ini, tak luput kerjasama serta dukungan dari berbagai pihak. Baik pemerintah maupun pihak swasta.
”Kita juga berikan bantuan beni tanaman sayuran hortikultura,” kata ketua panitia, Febri Yeldi.in. Kegiatan sosial ini, kata Febri, bertujuan untuk menjalin silaturahmi dan sekaligus berbagi kepada anak santri di Yayasan Panti Asuhan Hidayatullah. ”Semoga bantuan yang kita berikan bermanfaat buat mereka. Amin,” harap dia. (dri)
Sumber: http://tanjungpinangpos.id/gema-minang-santuni-santri/

Kamis, 01 Juni 2017

Sociology FISIP UMRAH Goes To Mantang Island (Bagian 1)


Sociology Goes to Mantang

Awan hitam menahan laju sinar mentari. Namun, terang tak absolute tenggelam, meski lambat laun memudar karena tersapu mendung. Hujan turun dengan keanggunan, perlahan gemuruh halus pun terdengar menyapa, saling sahut-sahutan bagai simfoni nada dan irama. Ranting dan dedaunan menari bersama angin seolah bahagia menyambut hujan yang turun dengan menawan. Dentingan manja rintik pun dalam sekejab berubah jadi lebat. Lalu tanah Dompak pun tersapu hujan, sedikit menumpuk dalam genangan. Gemuruh pun terdengar semakin lantang saja. Ranting dan dedaunan tampak tak berdaya mengikuti arah angin yang berhembus kencang.
Pagi berganti siang, namun mentari masih tak menampakkan dirinya. Pekat masih menghiasi langit. Anginpun masih terus memainkan perannya, memaksa pepohonan mengikuti harmoninya. Kemudian sore menjelang, hampir saja petang menyapa dan hujan masih saja tak mau mengalah. Dingin menusuk hingga ke tulang.

Hari itu, peserta Training of Trainer Partisipatory Rural Appraisal Prodi Sosiologi FISIP UMRAH sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Pulau Mantang. Namun ada gurat kekhawatiran di wajah kami ketika hingga Sore menjelang petang langit masih menangis sementara kami akan berangkat ke Pulau Mantang. Seperti yang sudah direncanakan jauh hari, 24-26 Mei 2017 para peserta ToT PRA Prodi Sosiologi akan melaksanakan kuliah praktek lapangan ke Pulau Mantang sebagai wujud dari tindak lanjut pelatihan PRA 1 yang dilakukan di gedung dekanat FISIP pada 21-24 Mei 2017.

Beruntungnya hingga menjelang petang cuaca berubah lebih cerah, meski masih rintik namun angin tak lagi kencang dan gemuruh sudah tak lagi terdengar. Dari dermaga Sei Enam, Kabupaten Bintan tampak 2 buah pompong sudah menjemput kedatangan kami. Siap untuk menyeberangkan kami ke Desa Mantang Baru, Kecamatan Mantang.

Gambar 1:
Foto Peserta ToT dari atas Pompong Menuju Desa Mantang Baru
Peserta ToT PRA Goes to Mantang

Kami berangkat dengan perasaan riang. Bagaimana tidak, kami bisa praktek tentang tekni PRA langsung ke masyarakat, labornya mahasiswa Sosiologi. Memang turun ke lapangan kali ini bukanlah pengalaman pertama bagi kami, sebab setiap semesternya calon Sosiolog FISIP UMRAH sudah terlatih untuk turuh ke lapangan melaksanakan penelitian, pengabdian masyarakat hingga diskusi dengan masyarakat dan pemuka masyarakat. Namun kesempatan kali ini sedikit berbeda, mahasiswa tidak hanya didampingi oleh dosen-dosen Sosiologi FISIP UMRAH, tapi juga didampingi oleh dosen sekaligus Ketua Jurusan Sosiologi Universitas Andalas Padang, Dr. Jendrius, M.Si,. Beliaulah yang menjadi coach selama pelatihan PRA yang digelar selama satu pekan itu.

Benar saja, begitu sampai di dermaga Desa Mantang Baru, para peserta langsung disambut oleh masyarakat disana dengan ramah. Kami dipersilahkan masuk ke rumah untuk beristirahat sekejab. Peserta, dosen pendamping perempuan menginap di salah satu rumah warga, sementara peserta laki-laki dan coach menginap di balai desa. Sebagian besar peserta ToT PRA baru kali ini menginjakkan kaki di Pulau Mantang tampak begitu takjub dengan pemandangan alam yang tersaji. Maklum, sebagian berasal dari luar Bintan. Alhasil, kami memutuskan untuk mengabadikan momen bersejarah ini melalui video dan foto.
Foto Peserta, Coach dan Panitia di Dermaga Desa Mantang Baru

Foto Peserta di Desa Mantang Baru

Malam menjemput, setelah sempat beristirahat dan makan malam, para peserta kemudian berkumpul di Balai Desa untuk  mempersiapkan kebutuhan besok saat bertemu dengan masyarakat. Tugas dan perlengkapan diberikan kepada masing-masing kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya. Menjelang dini hari persiapan pun selesai. Saatnya peserta beristirahat untuk mempersiapkan stamina menghadapi aktivitas esok hari. Maklum saja, wajah-wajah kelelahan terlihat jelas pada para peserta. Meski begitu, semangat untuk terus menggali ilmu tidak pernah padam di hati mereka.

Foto Peserta ToT PRA yang Kelelahan Selepas Persiapan Akhir
Suara adzan subuh berkumandang. Para peserta ToT bersiap-siap untuk shalat Subuh. Sebagian lagi segera mandi dan berkemas. Lepas sarapan, peserta ToT PRA dilepaskan ke spot yang sudah ditentukan untuk mempraktikkan teknik-teknik PRA yang telah diajarkan sebelumnya. (Mrs)

Sociology FISIP UMRAH Goes To Mantang Island (Bagian 2)

Pulau Mantang berada di perairan lepas Samudera Hindia. Masyarakat Mantang terkategori pada masyarakat solidaritas mekanik menjadikan lautan sebagai sumber daya utama dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Tak mengherankan jika masyarakat Mantang menggantungkan hidupnya dari aktifitas perikanan tangkap. Pesona alam Pulau Mantang yang menarik dengan pantai pasir merahnya menjadikan Mantang sebagai salah satu destinasi wisata yang cukup dilirik oleh pelancong

==PRA==

Pesisir selalu punya pesona. Panorama dan keasrian alamnya menjadi daya tarik yang tak mudah dilupakan. Udara yang sejuk dan suasana yang masih asri terasa saat pertama kali kami membuka mata di pagi hari. Mentari pagi menyapa, cuaca di luar sana sangat cerah. Berbanding terbalik dengan cuaca saat pertama kali rombongan kami menginjakkan kaki di Pulau Mantang.

Pagi-pagi kami disuguhkan dengan beragam menu sarapan, seperti nasi lemak, gado-gado dan lontong. Semuanya maknyus. Namun kami masih belum bisa move on dari Ranga Asam Pedas semalam. Rasanya yang nikmat dan disuguhkan dengan cara yang unik (lihat gambar) menjadikan makan semalam sangat nikmat.

Ranga Asam Pedas

Sarapan di Desa Mantang Baru

Namun poin penting dari keberadaan kami di Pulau Mantang tentu bukan hanya untuk wisata kuliner, tapi ada hal yang jauh lebih penting yakni melakukan praktek metode Partisipatory Rural Appraisal sebagai bentuk rencana tindak lanjut dari pelatihan sebelum ini.

Oleh sebab itu, setelah menikmati sarapan pagi para peserta langsung turun ke spot-spot yang telah ditentukan untuk menemui masyarakat Desa Mantang Baru. Para peserta dibagi ke dalam 5 kelompok, masing-masing diminta untuk mengajak masyarakat memaksimalkan partisipasinya dalam pengumpulan data dan informasi.

Ada 9 kekuatan dari metode PRA ini, 1) memfokuskan pada masyarakat pedesaan. 2)memunculkan alternatif-alternatif untuk daerah-daerah marginal. 3)menggunakan pendekatan-pendekatan yang sensitif terhadap isu seperti gender, kebutuhan anak, kelestarian lingkungan. 4)Sistematisasi partisipasi masyarakat. 5) Menggunakan materi visual dan diskusi kelompok. 6)memungkinkan anggota masyarakat untuk berinteraksi. 7) multi sektoral. 8) multi organisasi. 9)Ditutup atau disimpulkan dengan Rencana Kegiatan Masyarakat.

Adapun alat PRA adalah Penelusuran Alur Sejarah Lokasi, penyusunan kalender musim, pemetaan, transek, Pembuatan Bagan Peringkat (Analisa Pilihan) dan Penyusunan Rencana Kegiatan.

Peserta ToT Menjadi Fasilitator bagi Masyarakat Desa Mantang Baru

Disinilah keseruan dari ToT PRA Sosiologi FISIP UMRAH. Peserta berinteraksi dengan masyarakat dan sekaligus dilatih untuk dapat menjadi fasilitator bagi masyarakat. Pengalaman ini diharapkan akan meningkatkan kompetensi lulusan Sosiologi FISIP UMRAH nantinya. (mrs)

Peserta ToT Menjadi Fasilitator bagi Masyarakat Desa Mantang Baru
Peserta ToT Menjadi Fasilitator bagi Masyarakat Desa Mantang Baru

Mengguasai Metode PRA Jadi Kompetensi Utama

ToT PRA Sosiologi FISIP UMRAH

Tanjungpinang, SosUmrah--Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu program pengembangan dan penguatan kemampuan masyarakat untuk terlibat dalam proses pembangunan.  Melalui pemberdayaan diharapkan masyarakat bisa mengambil keputusan secara independen dan mandiri. Penguatan sumberdaya manusia dalam hal daya pikir, sikap dan tindakan perlu dikembangkan guna meningkatkan kompetensi masyarakat secara lebih optimal sehingga melahirkan perubahan positif di masyarakat.

Menganalisis persoalan pembangunan yang ada di tingkat lokal, nasional hingga internasional dilakukan dengan perspektif Sosiologis. Masalah pembangunan di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh kebijakan pembanggunan yang tidak memihak masyarakat, namun juga disebabkan oleh tingkat partisipatif masyarakat yang rendah dalam mendukung pembangunan. Oleh karena partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan menjadi begitu penting, maka diperlukan sebuah pendekatan kepada masyarakat yang sangat sistematis, salah satunya adalah dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA).

“ Melakukan pemberdayaan masyarakat itu berarti membangun masyarakat, ada banyak metode yang bisa digunakan untuk itu salah satunya adalah PRA. Pendekatan dan metode ini memungkinkan masyarakat untuk bersama-sama menganalisis masalah mereka dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan,” Jelas coach Dr. Jendrius, M.Si  dosen Sosiologi Unand.

Melalui PRA, lanjut alumnus Universitas Malaya itu, diharapkan kebijakan pembangunan harus bottom up, jadi harus dipikirkan betul apakah kebijakan yang akan diambil sudah memihak masyarakat atau hanya segelongan. PRA dijadikan alternatif yang signifikan dalam perencanaan yang sentral dan pengembangan pengelolaan eksternal yang tidak mudah untuk dapat dilaksanakan. PRA efektif untuk mengelola dan mengontrol pembangunan secara berkesinambungan. Kunci utama dalam metode PRA adalah kegiatan/program pembangunan dirancang dan dilaksanakan sendiri oleh masyarakat setempat dengan bantuan fasilitator.

Kemampuan menganalisis kebutuhan Sosiologi merupakan bidang ilmu yang mengkaji tentang masyarakat. Persoalan-persoalan yang ada di dalam masyarakat menjadi kajian Sosiologi, mulai dari persesuaian (conformity), perilaku menyimpang (deviance) hingga dinamika masyarakat menjadi kajian seksi yang tak luput dibicarakan dalam bidang studi Sosiologi. Pembangunan sebagai isu sentral dalam kehidupan bermasyarakat juga menjadi poin penting yang dikaji dalam Sosiologi. Keberhasilan maupun kegagalan pembangunan tak luput dari perhatian para Sosiolog.

Berangkat dari pentingnya pemberdayaan masyarakat, menuntut calon sarjana Sosiologi untuk menguasai teknik atau metode PRA tersebut. Sebab, kemampuan PRA merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh mahasiswa Sosiologi UMRAH.

“ Calon sarjana Sosiologi FISIP UMRAH memang dipersiapkan untuk mampu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dengan menggunakan metode PRA untuk kemudian dilakukan pemberdayaan,” tutur Ketua Jurusan Sosiologi FISIP UMRAH, Marisa Elsera.

Mengingat pentingnya metode PRA dikuasai oleh calon Sosiolog, maka Jurusan Sosiologi FISIP UMRAH mengadakan pelatihan PRA yang diikuti oleh 50 orang mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UMRAH. Pelatihan dilaksanakan di gedung Dekanat Fisip selama 6 hari (21-23 Mei 2017) dan dilanjutkan dengan kegiatan praktek langsung ke masyarakat Pulau Penyengat (24-26 Mei 2017).

Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk mahasiswa Sosiologi. Sebab, labornya Sosiolog itu adalah masyarakat. Jadi calon Sosiolog tentu harus terbiasa berhubungan dengan masyarakat. Terlebih lagi metode PRA penting untuk dikuasai oleh mereka agar ketika turun ke lapangan mereka bisa mempraktekkan metode ini dan bisa menganalisis persoalan yang ada di masyarakat hingga ke akar rumput. Manfaatnya bukan hanya untuk mahasiswa saja tapi juga masyarakat.

“Kemampuan melakukan teknik PRA dapat bermanfaat untuk mengidentifikasi persoalan di masyarakat sekaligus memberikan masukan kepada pemerintah dalam mengambil kebijakan sehingga kebijakan yang diambil benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat,” ,” ujar Ketua Pelaksana Kegiatan PRA Jurusan Sosiologi, Emmy Solina, M.Si.

Menganalisis persoalan pembangunan yang ada di tingkat lokal, nasional hingga internasional dilakukan dengan perspektif Sosiologis. Masalah pembangunan di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh kebijakan pembanggunan yang tidak memihak masyarakat, namun juga disebabkan oleh tingkat partisipatif masyarakat yang rendah dalam mendukung pembangunan. Oleh karena partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan menjadi begitu penting, maka diperlukan sebuah pendekatan kepada masyarakat yang sangat sistematis, salah satunya adalah dengan metode PRA. (Mrs)

Sabtu, 12 September 2015

Dita




Saat jatuh cinta, kita mengalami fase dimana keegoisan seringkali mengalahkan akal dan toleransi. Ketika mencintai, seringkali lupa bahwa tujuan utama dari cinta adalah membahagiakan orang yang kita cintai, bukan hanya membahagiakan diri sendiri. Ketika dicintai, seringkali kita alpa bahwa kita memiliki hutang untuk membalas membahagiakan orang yang sudah mencintai dan mempersembahkan kebahagiaan untuk kita. Kondisi yang demikian menjadi lumrah, sehingga pemaknaan akan cinta pun menjadi beragam tergantung pada bagaimana masing-masing orang menginterpretasikannya.

Membicarakan cinta sama seperti beberapa orang buta menginterpretasikan seekor gajah, bagi yang sempat meraba ekor, dia akan katakan gajah itu panjang dan ujungnya berbulu. Namun bagi yang meraba badannya, dia akan berkata gajah itu sangat besar dan tinggi, berbeda pula dengan si buta yang memegang belalai atau bagian lain dari gajah. Ya, tidak ada satu pun dari mereka yang buta itu salah mendeskripsikan gajah, begitupun dengan mereka yang menginterpretasikan cinta. Bagi mereka yang dibahagiakan oleh cinta, tentu menginterpretasikannya sebagai sebuah perasaan yang membahagiakan, namun bagi mereka yang gagal dalam cinta akan menginterpretasikan cinta sebagai sebuah kesakita luar biasa. 

Hampir semua orang piawai ketika bicara cinta secara teoritis, tapi sebagian besar mengalami kegagalan dalam cinta. Namun sudah seperti hal lumrah ketika orang lain terlihat sangat bijak saat menasehati persoalan cinta orang lain tapi tidak mengerti bagaimana mencari jalan keluar untuk persoalan cinta yang dia alami sendiri. Persis seperti yang dialami Dita saat ini. Gadis itu merasa bingung dengan keputusan yang akan diambilnya. 

Kemarin malam, tepat setelah shalat Isya Dita ditelpon oleh orangtuanya. Gadis itu diminta untuk segera pulang ke kampung guna membicarakan lamaran atas dirinya yang datang dari salah satu keluarga sahabat Ayahnya. Dia kaget, karena memang sebelumnya tidak ada pembicaraan ke arah pernikahan. Terlebih lagi tidak pernah terlintas dipikirannya untuk menjalani proses perjodohan sebelum menikah. Gadis itu tak dapat berkata apa-apa sampai akhirnya ayahnya mengeluarkan sebuah pertanyaan yang tak pernah ia sangka-sangka.

“ Kami sudah mengenal pemuda itu begitupun dengan keluarganya. Mereka baik dan terpandang, ku pikir kau pasti setuju dengan rencana inikan?,” Tanya Ayah.
“ Kau tak perlu jawab sekarang, pikirkanlah beberapa hari ini. Jika sudah ada keputusanmu, hubungi kami kembali,sayang,” serobot ibunya.

Dita cukup beruntung malam itu, dia tak perlu menjawab pertanyaan Ayah yang sebenarnya lebih mirip dengan pernyataan dari pada pertanyaan. Dia menutup pembicaraan dengan suara yang masih tergagap-gagap. Rasa tak percaya membuat Dita mengernyitkan dahinya beberapa menit sampai akhirnya menetes airmata di pipinya. Tatapannya datar, dia tak terisak hanya saja air mata terus mengalir. Dibaringkannya tubuhnya diatas ranjang sambil masih menggenggam ponselnya hingga akhirnya dia tertidur tanpa menyeka air matanya.

Pagi menjelang, sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela kamar. Cuaca pagi itu sangat indah, tapi tak demikian dengan hati Dita. Dia terbangun dengan matanya yang sembab dan suasana hati yang buruk. Dia menghela nafas panjang sebelum mulai beranjak dari tempat tidurnya. Langkahnya terseret-seret, tampak berat sekali hendak melangkah ke kamar mandi. Begitupun setelah selesai mandi, masih tergurat kesedihan di wajahnya.
“ Pagi cantik. Anak gadis kok pagi-pagi sudah melamun,” sapa ibu kos.
“ Ah tidak,bu. Hanya sedikit mengantuk,” kilah Dita.
“ Semalam ibumu menelpon, tapi kamu sedang Isya di masjid,” jelasnya.
“ Sudah,bu. Kami sudah bicara semalam,” jawab Dita.
“ Ada hubungannya dengan wajahmu yang ditekuk ini?,” si ibu kos mulai kepo.
“ Sedikit,” jawab Dita.
“ Tentang perjodohan?,” ibu kos berlagak seperti peramal.

Dita tersedak karena kaget karena ibu kos mengetahui isi pembicaraan dia dan orangtuanya. Sempat terlintas dalam benaknya bahwa ibu kos menguping pembicaraanya semalam, namun cepat-cepat ibu kos menjelaskannya.
“ Ibu tidak menguping, hanya menebak dan ternyata benar,”
“ bagaimana ibu bisa menebak dengan benar?,” tanyaku penasaran.
“ mudah saja, kamu sudah diusia yang pantas untuk menikah, karirmu sudah cukup mapan, sementara kamu adalah anak perempuan paling besar dan kamu berasal dari keluarga Minangkabau yang sudah akrab dengan system perjodohan. Ketebak sudah,” sahut ibu Kos.

Ya, tak ada satupun yang salah dari analisa ibu kos. Dita memang anak sulung dari keluarga Minangkabau yang terkenal dengan perjodohannya. Ada banyak gadis Minang yang menikah karena dijodohkan, sampai sekarang pun masih berlaku hal itu terutama dalam keluarga Dita. Lebaran bulan lalu Mamak atau Paman, adik dari ibu Dita sudah menanyainya tentang calon pasangan. Ujung-ujungnya membicarakan pernikahan. Namun dengan santai Dita katakan bahwa ia masih ingin melanjutkan kuliah dan belum ingin menikah dalam waktu dekat. 

Dita tak menyangka buah dari jawabannya itu harus ia tuai seperti ini. Dita harus menjalani proses perjodohan yang tidak pernah ia inginkan sebelumnya. Dia berpikir bahwa zaman sudah modern, sistem begini harusnya tidak ada lagi. Dita berpikir bahwa keluarganya memang masih kolot.
“ Kamu di jodohkan? Wah pangeran tampan mana yang kurang beruntung itu?,” Ratih muncul dari kamarnya.
“ Kamu ini nguping aja,” sahut Dita.
“ Ku pikir ada baiknya disetujui saja, ketimbang kamu berharap Andra terus-terusan. Selamat yaaaa,” timpal Gadis, yang baru saja lewat dari ruang makan.

Dita hanya menjawab dengan cengiran khasnya. Pikirnya akan melelahkan untuk menanggapi candaan sahabat-sahabatnya itu, terlebih saat ini dia tidak punya selera humor yang cukup baik. Dita mengemasi buku-bukunya kemudian berjalan menuju scooter kesayangannya dengan bergegas. Setibanya di kantor dia bertemu Andra di lobbi. Pria itu menghampirinya dengan tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Dita menyambut uluran tangan itu dengan tanda Tanya besar dibenaknya. Sampai akhirnya dia tahu setelah Andra melanjutkan pembicaraannya.
“ Aku sudah dengar tentang perjodohanmu, aku turut senang. Selamat ya. Nanti jangan lupa undangannya,”
“ oh anu…tentang itu sebenarnya aku belum memutuskannya,” jawab Dita.
“ Kenapa belum? Bukankah dia pria yang baik?, apa dia tidak tampan?,” seloroh Andra.
“ Bukan, dia cukup tampan dan memang pria yang baik tapi….,”
“ Tapi apa?,” Tanya Andra.
“ Menurutmu haruskah aku menerimanya?,” Dita malah balik bertanya.
“ aaa…anu…hmm…tentu kalau memang kau suka,” jawab Andra.
Dita merasa kecewa dengan jawaban Andra. Dia terluka karena Andra justru merestui perjodohan itu. Dita sudah setahun ini menyukai Andra dan berharap lebih pada pria itu. Namun dia hanya bisa mencintai Andra secara sembunyi-sembunyi karena memang pria itu tak pernah menyatakan perasaannya pada Dita. Pikir Dita, Andra hanya menganggapnya sebagai kawan.

Meski sangat mencintai Andra, namun Dita tak mau terlihat agresif mendekati pria itu. Sebagai gadis Minangkabau, dia memegang falsafah yang menganggap bahwa tidak sepantasnya wanita mengejar pria. Tak elok jika Anau (Pohon Enau) yang mengejar Sigai (tangga yang digunakan untuk memanjat pohon enau oleh petani).

Di Minangkabau, perempuan diibaratkan sebagai Pohon Enau, dimana-mana Pohon itu pasif tidak boleh bergerak. Sementara sigai lah yang harus aktif berpindah mencari enau dari satu pohon ke pohon lain. Jika pohon enau yang mengejar sigai, tentu itu bukan peristiwa yang lumrah. Begitulah wanita dalam pandangan sebagian masyarakat Minangkabau, terutama dalam keluarga Dita. Karena ajaran itulah, Dita tak pernah berani untuk mendekati Andra. Dia hanya mencintainya dalam diam dan berharap suatu saat Andra yang akan menyatakan perasaanya. Sulit bagi Dita untuk mengekspresikan perasaanya pada Andra. Mereka sudah terlalu dekat, layaknya sahabat karib. Disaat Dita membutuhkan bantuan, Andra yang selalu datang menolong dan begitupun sebaliknya. Kedekatan itulah yang menimbulkan benih-benih cinta Dita. Sayangnya, pernyataan cinta yang ditunggu Dita tak kunjung tiba.
“ Kalau begitu akan ku pikirkan, mungkin memang harus ku jemput jodohku dengan cara begini,” jawab Dita.

Kemudian Dita meninggalkan Andra yang masih memandanginya hingga bayangan Dita benar-benar sudah tak tampak lagi. Ada guratan kesedihan di mata Andra saat mendengar jawaban Dita. Namun dia mencoba menepisnya. Dia pun mengikuti Dita hingga ke meja kerjanya. Menggoda gadis itu dengan lelucon bodoh tentang perjodohan Dita yang akhirnya membuat gadis itu tak dapat lagi menyembunyikan kekesalannya. Dia membanting meja, kemudian keluar dari ruangannya. Andra hanya nyengir kuda melihat kepergian Dita. 

Beberapa menit kemudian Dita kembali ke mejanya. Sambil memandangi laptopnya, Dita mendengarkan pembicaraan Andra dengan Wenda, teman sekantor mereka. Wenda menanyakan tentang kabar perjodohan Dita yang diketahui Andra dari Gadis. Dita menguping sambil bergumam dalam hatinya. “ Awas kau,Gadis. Pulang nanti ku buat perhitungan,” 

Andra tak tahu kalau Dita sudah kembali duduk di mejanya. Dia terus bercerita tentang kabar yang dia dengar dari Gadis. Dengan ekspresi konyol dia berseloroh tentang perjodohan itu yang membuat emosi Dita semakin terpacu. Namun cepat-cepat Dita menguasai dirinya, tak ingin menangis di ruangan yang penuh dengan rekan kerjanya itu.
“ Ku pikir kau orang yang akan sangat kecewa mendengar kabar perjodohan Dita,” seloroh Wenda.
“ Gila, kenapa aku harus sedih. Justru aku sangat senang karena dia bisa cepat menikah. Sudah waktunya juga kan,” jawab Andra.
Dita tak kuasa membendung air matanya. Dia sangat terluka mendengar jawaban Andra. Harapannya pupus seketika itu juga. Pikirnya tak mungkin Andra mencintainya jika toh sudah seperti itu kalimat yang dia dengar dari mulut Andra. Jelas sudah, penantiannya harus diakhiri sampai disini. Tak ada alasan lagi untuk tetap menunggu Andra.
Dita menelpon ibunya, menjelaskan bahwa dia bersedia menerima perjodohan itu dan meminta ibunya mengatur rencana lamaran. Tanpa Dita sadari, Andra mendengar pembicaraan mereka. Lelaki itu tertunduk lesu di mejanya, matanya berkaca-kaca. Hatinya juga remuk mendapati kenyataan itu. Dia terluka, tak kalah perih dengan luka yang dirasakan Dita saat ini.

Baik Dita dan juga Andra sama-sama menyukai, namun mereka tak mengetahui perasaan satu sama lain. Dita berpikir bahwa Andra tidak mencintainya, begitupun sebaliknya dengan Andra. Mereka saling mendoakan kebaikan bagi orang yang mereka cintai, meskipun tidak ada balasan atas perasaan mereka. (bersambung)

 *Tungguin ya :)